Minggu, 17 Maret 2013

INDONESIA MENAMBAH EFEK DETERENS

Tank leopard






ancablogspot (17-3-13) - Menteri Pertahanan (menhan) Purnomo
Yusgiantoro mengatakan, alutsista yang mempunyai
efek penggentar (deterrence) milik Indonesia sudah
lengkap. Apalagi, kesepakatan soal pembelian main
battle tank (MBT) Leopard dari Jerman menurutnya
sudah final.
"Untuk deterrence saya kira kita sudahlah (lengkap),"
kata Menteri Pertahanan Purnomo di komplek kantor
presiden, Jakarta, Jumat (1/3).
Selain tank leopard yang berberat 60 ton yang
berjumlah lebih seratus unit, Indonesia juga sudah
memesan tank medium dibawah leopard dengan
berat 30 hingga 40 ton. Selama ini Indonesia hanya
punya light tank.
"Sudah (tank disetujui) bagian paket dan kita sudah
punya satuan rudal," kata Purnomo lagi.
Pada akhir kabinet diperkirakan sistem penggentar
Indonesia sudah lengkap yang mana kebanyakan
alustsista tersebut dipasok dari Jerman.
Untuk saat ini, Alutsista penggentar yang dimiliki
Indonesia antara lain, pesawat grobb, satuan rudal
dengan jangkauan 300 kilometer dan 150 kilometer,
helikopter Puma yang bisa digunakan untuk
penggunaan keperluan militer dan sipil, jet heavy
fighter dan jet light fighter, main battle tank, medium
battle tank dan light battle tank.
"Sekarang sedang proses akhir (leopard). Kita kan
akan dapatkan cukup banyak dari sana (Jerman).
Pokoknya lebih dari seratus dan itu sudah cukup efek
penggentarnya," tutupnya.




Sumber : hankam

Salam penulis
ANCA | ancablogspot-anca blogspot.com

Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Selasa, 12 Maret 2013

MENILAI KEMELUT "ASKAR DIRAJA SULU VS MALAYSIA”

Gambar pesawat super tucano INDONESIA
(Imej ancablogspot)


ancablogspot (12.3.13) Diawali dengan serangan udara di pagi hari itu Selasa
tanggal 5 Maret 2013, 8 jet tempur Angkatan Udara
Malaysia yang terdiri dari 3 Hornet dan 5 Hawk
membombardir kawasan "hunian" pejuang Sulu yang
melakukan infilltrasi sejak 9 Februari 2013 lalu di
Kampung Tanduo Lahad Datu Sabah. Serangan itu
kemudian dilanjutkan dengan pengerahan ribuan
tentara darat Malaysia berikut persenjataan berat
berupa kendaraan lapis baja dan artileri. Mereka
menyisir kawasan yang telah diduduki pasukan Sulu
selama hampir sebulan untuk mencari dan
menemukan gerilyawan terlatih veteran Moro Filipina
Selatan.
Serangan emosional tentara Malaysia itu sebenarnya
mewakili jalan pikiran petinggi pemerintahan dan
militer di Kuala Lumpur yang merasa kalah malu
karena tak mampu mendeteksi kehadiran milisi
bersenjata di daratan Sabah sejak 9 Februari 2013 lalu.
Langkah militer Malaysia yang overdosis itu justru
melengkapi dua "kekalahan" sebelumnya yaitu
ketidakmampuan intelijen Malaysia mendeteksi
kehadiran milisi dalam jumlah ratusan dan pola
runding yang berlarut dan buntu sehingga kemudian
menjadi berita mendunia. Mestinya sejak mencium
adanya pergerakan milisi bersenjata di negerinya
militer Malaysia sudah harus melakukan serangan
dadakan. Sehingga tak sampai ceritanya menjadi
berita dunia berminggu-minggu. Pada akhirnya opini
yang berkembang di luar Malaysia memberikan kesan
bahwa Sabah memang bukan milik sejati persekutuan
tanah melayu.
Ini baru halaman pertama, kira-kira begitu, meminjam
istilah Anas Urbaningrum. Halaman berikutnya sangat
diyakini bahwa perang gerilya dan sabotase akan
berlangsung lama di Sabah. Dan itu harus diselesaikan
melalui jalan perundingan, bukan jalan militer. Milisi
Sulu sudah tentu mendapat aliran senjata dari saudara
seperjuangannya milisi Moro Mindanao. Senjata-
senjata itu jumlahnya diprediksi bisa mempersenjatai
minimal 10 batalyon milisi. Belum lagi jika ada senjata
selundupan yang disusupkan intelijen asing untuk
"membantu" perjuangan Sultan Sulu mendapatkan
haknya.
Malaysia yang selama ini selalu menyanyikan lagu
berirama "Meng" sekarang dipaksa harus
mendengarkan lagu berirama "Di" yang gemanya
sudah mendunia. Maksudnya irama "Mengklaim"
sekarang sudah diimbangi dengan syair populer
"Diklaim". Dan tanah yang diklaim itu tak tanggung-
tanggung yaitu sebuah "sawah" yang bernama Sabah
yang kaya sumber daya alam mineral itu. Tak usahlah
diceritakan lagi proses historis tentang kebaikan Sultan
Brunai memberikan Sabah ke Sultan Sulu karena jasa
baiknya memerangi pemberontak di North Borneo itu.
Sejarah sudah mencatatnya, termasuk dimasukkannya
Sabah dan Sarawak dalam pembentukan negara
Malaysia tahun 1963.
Sesungguhnya menghadapi perang gerilya tidak perlu
menghadirkan alutsista seperti jet tempur F18 Hornet.
Cukup diatasi dengan pesawat coin (counter
insurgency) seperti Bronco atau Super Tucano. Ketika
Indonesia membeli 16 Super Tucano baru-baru ini,
banyak pihak di Malaysia mentertawakan. Nah
sekarang ketika mereka berhadapan dengan
gerilyawan nyata, baru terasa kebutuhan akan
pesawat jenis itu. Hornet atau Sukhoi kan untuk
supremasi udara, duel udara antar negara, bukan
untuk melawan gerilya. Tetapi apa boleh buat perang
di Lahad Datu telah dimulai, ada aksi pasti ada reaksi.
Sulu tidak sendirian. Pejuang Filipina Selatan yang lain
tidak akan membiarkan luka dan duka saudaranya
yang menuntut hak. Dan kita akan menyaksikan cerita
dan berita berdarah itu pada halaman berikutnya.
Malaysia terperangkap persis di mulut "kepala anjing"
pulau Kalimantan dimana Lahad Datu berada. Umpan
yang diberikan milisi Sulu di mulut itu memberikan
beberapa muntahan yang kemudian menjadi serangan
militer emosional yang overdosis. Boleh jadi dalam
serangan senjata berat itu militer Malaysia
menyatakan diri sebagai pemenang tetapi bagi
pejuang dan gerilyawan itu justru menjadi pemicu dan
pembangkit adrenalin untuk melakukan balas dendam
berupa sabotase atau perang gerliya.
Milisi Sulu yang didukung MNLF (pejuang Moro)
sejatinya mengenal betul wilayah Sabah. Apalagi di
wilayah itu terdapat ratusan ribu warga Malaysia dari
etnis Sulu. Seperti yang dikatakan Habib Hashim
Muhajab, Ketua Dewan Komando Islam MNLF, pejuang
Moro ketika melakukan perlawanan terhadap
pemerintah Filipina menjadikan Sabah sebagai tempat
latihan militernya. Tetapi yang lebih seram dari
pernyataan Hashim adalah meski pemimpin MNLF
belum secara resmi menyatakan memerintahkan
pasukan untuk berlayar ke Malaysia namun ribuan
milisi Moro menyatakan siap diterjunkan dalam
pertempuran.
Pemerintah Filpina dihadapkan pada posisi serba
salah. Tidaklah mungkin selamanya mereka berada
dalam posisi yang sama dengan pemerintah Malaysia.
Apalagi sudah jatuh korban di pihak milisi Sulu yang
nota bene adalah warga Filipina. Apakah Pemerintah
Filipina akan terus membiarkan warganya dibombardir
tentara tetangga sebelahnya. Tentu tidak. Meski
secara diplomasi selalu disuarakan agar milisi Sulu
segera pulang kampung, tetapi bukankah lidah
memang tidak bertulang. Secara diplomasi dan
hubungan bertetangga perlu disuarakan hal itu tetapi
secara intelijen dan militer apalagi yang menyangkut
keselamatan dan harga diri bangsa tentu Filipina tidak
sepolos itu.
Indonesia sendiri berkepentingan mengawal kawasan
perbatasan Sabah dimana Ambalat berada. Saat ini
ada 9 KRI dan beberapa kapal kecil bersenjata
termasuk pasukan Marinir melakukan patroli di
perairan Sebatik dan Nunukan. TNI AD juga
melipatgandakan pasukannya untuk mengantisipasi
limpahan limbah konflik yang tak terduga termasuk
antisipasi eksodus ribuan TKI dari Sabah. Pemerintah
sudah mengantisipasi jika terjadi kelangkaan bahan
pokok di Sebatik dan Nunukan sebagai akibat konflik
Sabah. Pertarungan klaim di Sabah sudah masuk
dalam wilayah adu jotos, maka kita harus siap-siap
menjaga ring itu agar jangan sampai mereka keluar
ring yang berarti masuk wilayah kita. Kalau masuk
wilayah kita, kita jotos juga, mengapa tidak.

Sumber: kaskus

Salam penulis
ANCA | ancablogspot-anca.com
Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Sabtu, 09 Maret 2013

INILAH ORANG INDONESIA YANG GENIUS DI LUAR NEGERI

ancablogspot(9.3.13)
1. Prof Nelson Tansu, PhD- Pakar Teknologi Nano
Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan
sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi
teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan
sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada
anak anak muda brilian semacam Nelson Tansu.
Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser
dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser
biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma
perlu 1,5 watt.
Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah
banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di
usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai
profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia
memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda
sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi
asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara
sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia
pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26
tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini
bila ingin menjadi warga negara Amerika.
Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci
terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih
kewarganegaraan?" "Tidak. Hati Saya tetap melekat
dengan Indonesia," katanya. Nelson bercerita, sampai
kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk
melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih
memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan
menjadikan universitas di Indonesia sebagai
universitas papan atas di Asia.
Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset
kita. Ia tumbuh cemerlang tanpa perhatian negara
sama sekali. Bila Koran Tempo kali ini menurunkan
liputan khusus mengenai orang-orang seperti Nelson,
itu karena koran ini melihat sesungguhnya kita cukup
memiliki ilmuwan dan pekerja profesional yang
berprestasi di luar negeri. Diaspora kita bukan hanya
tenaga kerja Indonesia. Kita memiliki sejumlah Nelson
lain—di Amerika, Eropa, dan Jepang. Orang orang
yang sebetulnya, bila diperhatikan pemerintah, akan
bisa memberikan sumbangan berarti bagi kemajuan
Indonesia.
2. Muhammad Arief Budiman
Di sebuah ruang kerja di kompleks Orion Genomic,
salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di
negeri itu, seorang lelaki Jawa berwajah "dagadu"—
sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap
terlihat sedang salat. Dialah Muhammad Arief
Budiman. Pada mulanya bercita-cita menjadi pilot, lalu
ingin jadi dokter karena harus berkacamata sewaktu
SMP, anak pekerja pabrik tekstil GKBI itu sekarang
menjadi motor riset utama di Orion. Jabatannya:
Kepala Library Technologies Group. Menurut
BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam
eksekutif kunci perusahaan genetika itu.
Genetika adalah cabang ilmu biologi yang
mempelajari gen, pembawa sifat pada makhluk hidup.
Peran ilmu ini bakal makin sentral di masa depan:
dalam peperangan melawan penyakit, rehabilitasi
lingkungan, hingga menjawab kebutuhan pangan
dunia.
Arief tak hanya terpandang di perusahaannya.
Namanya juga moncer di antara sejawatnya di negara
yang menjadi pusat pengembangan ilmu tersebut:
menjadi anggota American Society for Plant Biologists
dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli
genetika tanaman—American Association for Cancer
Research.
Asosiasi peneliti kanker bukan perkumpulan ilmuwan
biasa. Dokter bertitel PhD pun belum tentu bisa
"membeli" kartu anggota asosiasi ini. Agar seseorang
bisa menjadi anggota asosiasi ini, ia harus aktif
meneliti penyakit kanker pada manusia. Ia juga harus
membawa surat rekomendasi dari profesor yang lebih
dulu aktif dalam riset itu serta tahu persis riset dan
kontribusi orang itu di bidang kanker. Arief
mendapatkan kartu itu karena, "Meskipun latar
belakang saya adalah peneliti genome tanaman, saya
banyak melakukan riset genetika mengenai kanker
manusia," ujarnya.
Kita pun seperti melihat sepenggal kecil sejarah
Indonesia yang sedang diputar ulang. Pada akhir
1955, ahli genetika (dulu pemuliaan) tanaman
kelahiran Jawa yang malang-melintang di Eropa dan
Amerika, Joe Hin Tjio, dicatat dengan tinta emas
dalam sejarah genetika karena temuannya tentang
genetika manusia. Ia menemukan bahwa kromosom
manusia berjumlah 46 buah—bukan 48 seperti
keyakinan ahli genetika manusia di masa itu ("The
Chromosome Number of Man. Jurnal Hereditas vol. 42:
halaman 1-6, 1956). Tjio—lahir pada 1916, wafat pada
2001—bisa menghitung kromosom itu dengan tepat
setelah ia menyempurnakan teknik pemisahan
kromosom manusia pada preparat gelas yang
dikembangkan Dr T.C. Hsu di Texas University,
Amerika Serikat.
3. Prof Dr. Khoirul Anwar: Terinspirasi Kisah
Fir'aun
Bangkai burung, balsam gosok, dan kisah mumi
Firaun. Siapa mengira tiga benda sepele itu ada
gunanya. Tapi itulah trio yang "menghidupkan" pria
kampung seperti Khoirul Anwar. Dia kini menjadi
ilmuwan top di Jepang. Wong ndeso asal Dusun Jabon,
Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri,
Jawa Timur, itu memegang dua paten penting di
bidang telekomunikasi. Dunia mengaguminya. Para
ilmuwan dunia berkhidmat ketika pada paten
pertamanya Khoirul, bersama koleganya, merombak
pakem soal efisiensi alat komunikasi seperti telepon
seluler.
Graduated from Electrical Engineering Department,
Institut Teknologi Bandung (with cum laude honor) in
2000. Master and Doctoral degree is from Nara
Institute of Science and Technology (NAIST) in 2005
and 2008, respectively. Dr. Anwar is a recipient of IEEE
Best Student Paper award of IEEE Radio and Wireless
Symposium (RWS) 2006, California, USA.
Prof Dr. Khoirul Anwar adalah pemilik paten sistem
telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal
Frequency Division Multiplexing) adalah seorang
Warga Negara Indonesia yang kini bekerja di Nara
Institute of Science and Technology, Jepang.
Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal
frequency division multiplexing. Hasilnya, kecepatan
data yang dikirim bukan menurun seperti lazimnya,
melainkan malah meningkat. "Kami mampu
menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih
kecil dari yang diperlukan sebelumnya," kata dia.
Dunia memujinya. Khoirul juga mendapat
penghargaan bidang Kontribusi Keilmuan Luar Negeri
oleh Konsulat Jenderal RI Osaka pada 2007.
Pada paten kedua, lagi-lagi Khoirul menawarkan
sesuatu yang tak lazim. Untuk mencapai kecepatan
yang lebih tinggi, dia menghilangkan sama sekali
guard interval (GI). "Itu mustahil dilakukan," begitu
kata teman-teman penelitinya. Tanpa interval atau
jarak, frekuensi akan bertabrakan tak keruan. Persis
seperti di kelas saat semua orang bicara kencang
secara bersamaan.
Istilah ilmiahnya, terjadi interferensi yang luar biasa.
Namun, dengan algoritma yang dikembangkan di
laboratorium, Khoirul mampu menghilangkan
interferensi tersebut dan mencapai performa (unjuk
kerja) yang sama. "Bahkan lebih baik daripada sistem
biasa dengan GI," kata pria 31 tahun ini.
Dua penelitian istimewa itu mungkin tak lahir bila dulu
Khoirul kecil tak terobsesi pada bangkai burung,
balsam yang menusuk hidung, serta mumi Firaun.
Bocah kecil itu begitu terinspirasi oleh kisah Firaun,
yang badannya tetap utuh sampai sekarang. Dia pun
ingin meniru melakukan teknologi "balsam" terhadap
seekor burung kesayangannya yang telah mati. "Saya
menggunakan balsam gosok yang ada di rumah,"
kata anak kedua dari pasangan Sudjianto (almarhum)
dengan Siti Patmi itu.
Khoirul berharap, dengan percobaannya itu, badan
burung tersebut bisa awet dan mengeras. Dengan
semangat, ia pun melumuri seluruh tubuh burung
tersebut dengan balsam gosok. Sayangnya, hari demi
hari berjalan, kata anak petani ini, "Teknologi balsam
itu tidak pernah berhasil." Penelitian yang gagal total
itu rupanya meletikkan gairah meneliti yang luar biasa
pada Khoirul. Itulah yang mengantarkan alumnus
Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung
tersebut kini menjadi asisten profesor di JAIST, Jepang.
Dia mengajar mata kuliah dasar engineering,
melakukan penelitian, dan membimbing mahasiswa.
Saat ini Khoirul sedang menekuni dua topik penelitian
yang dilakukan sendiri dan enam topik penelitian yang
digarap bersama enam mahasiswanya.
4. Andrivo Rusydi: Koki Teknologi Nano
Pemuda 33 tahun ini mesti wira wiri antarbenua
sepanjang tahun untuk menjalani riset-risetnya di
bidang teknologi nano. Ia memang salah satu dari
sedikit anak bangsa negeri ini yang menguasai
teknologi pengontrol skala atom dan molekul itu.
Sebuah keahlian yang—terutama—banyak dibutu*kan
di negara maju.
Maka negeri-negeri semacam Singapura, Amerika
Serikat, Jerman, dan Kanada membuka lebar-lebar
pintu riset bagi urang awak ini. Mari kita lihat jejak-
jejak kejeniusannya, yang sudah diakui dunia
internasional, itu. Saat ini Andri adalah peneliti tetap
dan pengajar mata kuliah nanotechnology dan
nanoscience di Universitas National Singapura (NUS).
Di universitas ini pula ia mendapatkan gelar profesor
pada usia 31 tahun. Sejak awal tahun ini, dia diangkat
menjadi anggota Singapore International Graduate
Award atau supervisi para doktor lulusan NUS.
Lalu, di Jerman, suami Sulistyaningsih ini menjadi
profesor tamu pada Center for Free Electron Laser dan
Institute for Applied Physics of University of Hamburg.
Di sini, selain mengajar, Andri membimbing
mahasiswa diploma sampai doktoral.
Penjelajahannya yang intensif di ranah teknologi nano
juga membuat sulung dari empat bersaudara ini juga
menjadi peneliti tamu di Departemen Fisika
Universitas Illinois di Urbana, Amerika Serikat, dan
Universitas British Columbia, Kanada.
Jejak akademisnya memang terpacak hingga ke
berbagai pelosok dunia. Tak hanya itu, teknik riset
yang ia kembangkan kemudian dimanfaatkan di
berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Prancis,
Korea, Jepang, Australia, Jerman, Kanada, dan Taiwan.
Dengan reputasi akademik internasional semacam
itu, Andri tak ingin terlena. Dia ingin berbakti kepada
tanah airnya untuk memajukan dunia ilmu di negeri
ini. Caranya lewat kerja sama penelitian dan beasiswa
tingkat doktoral dari dana-dana penelitian yang
diperolehnya
5. Dr Warsito P. Taruno: pemilik Edwar
Technology
Robot itu bernama Sona CT x001. Di sebuah jendela
ruko di perumahan Modernland, Tangerang, robot
yang dibekali dua lengan itu sedang memindai tabung
gas sepanjang 2 meter. Di bagian atas robot, layar
laptop menampilkan grafik hasil pemindaian. Selasa
dua pekan lalu itu, Sona—buatan Ctech Labs (Center
for Tomography Research Laboratory) Edwar
Technology—sedang diuji coba. Alat ini sudah dipesan
PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi
bus Transjakarta. "Di dalam ruko tidak ada tempat lagi
untuk menyimpan Sona dan udaranya panas," kata Dr
Warsito P. Taruno, pendiri dan pemilik Edwar
Technology.
Sona harus berada di ruangan yang suhunya di bawah
40 derajat Celsius. Perusahaan migas Petronas, kata
Warsito, tertarik kepada alat buatannya. Kini mereka
masih dalam tahap negosiasi harga dengan
perusahaan raksasa milik pemerintah Malaysia
tersebut. Selain Sona, Edwar Technology mendapat
pesanan dari Departemen Energi Amerika Serikat.
Nilai pesanan lumayan besar, US$ 1 juta atau sekitar
Rp 10 miliar.
Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun
memakai teknologi pemindai atau Electrical
Capacitance Volume Tomography (ECVT) temuan
Warsito. Lembaga ini mengembangkan sistem
pemindai komponen dielektrik seperti embun yang
menempel di dinding luar pesawat ulang-alik yang
terbuat dari bahan keramik. Zat seperti itu bisa
mengakibatkan kerusakan parah pada saat
peluncuran karena perubahan suhu dan tekanan
tinggi.
ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu
melakukan pemindaian dari dalam dinding ke luar
dinding seperti pada pesawat ulang-alik. Teknologi
ECVT bermula dari tugas akhir Warsito ketika menjadi
mahasiswa S-1 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik
Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, tahun 1991.
Ketika itu pria kelahiran Solo pada 1967 ini ingin
membuat teknologi yang mampu "melihat" tembus
dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek
yang opaque (tak tembus cahaya). Dia lantas
melakukan riset di Laboratorium of Molecular
Transport di bawah bimbingan Profesor Shigeo
Uchida.
6. Sonja dan Shanti Sungkono: Si Kembar
Penakluk Berlin
Penampilan mereka memukau publik musisi klasik,
dari Eropa hingga Amerika. Diganjar pelbagai
penghargaan internasional bergengsi.
Suatu hari, di hadapan publik musik klasik Berlin,
Jerman, penampilan duo pianis kembar Sonja dan
Shanti Sungkono tampak eksotis. Di atas pentas,
tubuh kedua perempuan berwajah Jawa ini dibalut
kebaya dengan siluet brokat keperakan. Rambut
mereka disanggul. Penampilan keduanya jauh dari
penampilan panggung para musisi klasik yang
konservatif—yang umumnya muncul dengan gaun
panjang warna hitam.
Duet Sonja-Shanti tak sedang ingin tampil unik,
apalagi nyentrik, dengan gaya tersebut. Model
penampilan itu boleh dibilang telah menjadi ciri khas
sekaligus identitas mereka sebagai perempuan
Indonesia dalam pelbagai pentas di mancanegara.
Selain penampilan, dalam setiap pertunjukan,
keduanya selalu memperkenalkan diri sebagai duo
pianis Indonesia. "Dari penampilan saja kelihatan,
kami bukan orang Jerman," kata keduanya, yang sejak
1991 bermukim di Berlin.
Toh, bukan lantaran penampilan itu yang membuat
mereka memukau. Kepiawaian jari-jari mereka menari
di atas tuts pianolah yang dikagumi penikmat musik
klasik, baik di Jerman maupun di kota-kota besar lain
di mancanegara.
Bahkan permainan Sonja-Shanti telah mencuri
perhatian para musisi dan kritikus musik klasik Eropa.
Di Jerman, penampilan mereka dipuji sebagai, "Benar-
benar pertunjukan yang indah, mengagumkan, dan
profesional."
Prestasi mereka pun patut dibanggakan. Mereka
meraih Jerry Coppola Prize dalam lomba duet piano di
Miami, Amerika Serikat, pada 1999. Dua tahun
berturutturut, 2001 dan 2002, mereka menyabet Prize
Winners Juergen Sellheim Foundation di Hannover,
Jerman. Lalu pada 2002 menjadi juara ketiga Torneo
Internazionale di Musica di Italia. Terakhir, mereka
menggondol Prize Winners pada National Piano Duo
Competition di Saarbrucken, Jerman, pada 2003.
Album pertama mereka, Works for Two Pianos, dirilis
pada 2002. Dua tahun berselang, Sonja-Shanti
menelurkan album kedua bertajuk 20th Century Piano
Duets Collection. Kedua album berformat CD itu di
bawah label NCA Jerman. Peredaran album kedua
lebih luas dari yang pertama.
Selain di Jerman, album tersebut beredar di Prancis,
Italia, Austria, Swedia, Jepang, dan Amerika. Kedua
album itu juga mendapat apresiasi yang cukup
antusias dari sejumlah media musik klasik di Eropa.
Selain itu, kedua album tersebut masuk arsip
Perpustakaan Musik Naxos—produser musik klasik
dunia yang menyimpan sekitar 36 ribu album.
7. Ari Munandar: Executive Chef Asia Di Eropa
Koki asal Korea Selatan itu berusia di kisaran 30 tahun
dan bekerja di satu hotel di Praha. Suatu hari ia
meminta bertemu dengan Ari Munandar, ahli masak
kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, yang sekarang
memimpin pasukan koki di Hotel Hilton Praque Old
Town, Praha, Republik Cek.
Tanpa basa-basi ia mengatakan ingin direkrut dan
bekerja di bawah Ari, yang jabatan resminya biasa
disebut executive chef atau chef de cuisine.
Mengapa? "Karena Anda satu-satunya executive chef
dari Asia di Eropa," begitu Ari menirukan ucapan koki
Korea Selatan itu kepada dirinya.
Executive chef merupakan jabatan sangat bergengsi,
apalagi di jaringan hotel top seperti Hilton. Ari, yang
baru berusia 37 tahun, sebelumnya tidak pernah
berpikir ia satu-satunya executive chef asal Asia di
hotel berbintang lima di Eropa. Tapi, setelah ia coba
mencari tahu, ucapan koki Korea itu mungkin benar.
Tidak ada nama Asia—termasuk dari Jepang—yang
menjadi executive chef di hotel prestisius di Eropa.
"Kecuali di Amsterdam, mungkin," kata Ari. Di
Amsterdam, ada beberapa koki top asal Indonesia.
Wajar bila Ari menepuk dada. Lebih bangga lagi
karena sekitar tiga bulan silam, saat mulai pindah ke
Zinc di Hilton Praque Old Town, ia masuk berita di
media massa setempat. Sebelum Ari masuk, Hilton
memiliki restoran bernama Maze yang dikelola koki
top yang bahkan sudah menjadi pesohor di Inggris,
Gordon Ramsay. Tiba-tiba saja Ramsay menarik Maze
dari Hilton sehingga mereka meminta Ari pindah ke
tempat mereka. Saat proses perpindahan Ari ke Hilton,
tanpa diduga Maze—yang sudah akan ditutup—
mendapat bintang Michelin. Anugerah ini
penghargaan paling bergengsi dunia bagi sebuah
rumah makan.

Sumber Rimanews

Salam penulis
ANCA | ancablogspot-anca.com
Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Jumat, 08 Maret 2013

PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

ancablogspot (8.3.13) - Bank Indonesia
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada triwulan pertama 2013 mencapai 6,2 persen,
didukung terutama oleh kuatnya permintaan
domestik.
Pertumbuhan itu didorong sektor konsumsi yang
tumbuh cukup kuat sejalan dengan keyakinan
konsumen dan daya beli masyarakat yang
membaik, kata Direktur Grup Humas BI Difi A
Johansyah menjelaskan hasil Rapat Dewan
Gubernur BI Kamis di Jakarta.
Sementara itu, berbagai indikator menunjukkan
moderasi pertumbuhan investasi khususnya pada
investasi nonbangunan di tengah investasi sektor
bangunan yang masih cukup kuat. Indikasi moderasi
tersebut juga terlihat pada melandainya
pertumbuhan impor, khususnya impor barang
modal.
Di sisi lain, kinerja ekspor ke berbagai negara mitra
dagang utama, khususnya China, Amerika Serikat
(AS) dan India, diprakirakan membaik.
Untuk keseluruhan tahun 2013, setelah
memperhitungkan aktivitas ekonomi pada triwulan-
triwulan selanjutnya, termasuk pengeluaran untuk
persiapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014,
pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan cenderung
mengarah ke batas bawah kisaran 6,3 - 6,8 persen.
Di sisi eksternal, BI memperkirakan defisit transaksi
berjalan menurun pada triwulan I-2013. Defisit
transaksi berjalan yang menurun tersebut didukung
oleh ekspor yang cenderung meningkat sejalan
dengan membaiknya harga komoditas
internasional.
Sementara itu, impor nonmigas diprakirakan
cenderung melemah di tengah risiko semakin
meningkatnya impor migas yang perlu terus
diwaspadai.
Di sisi lain, arus modal masuk, baik dalam bentuk
investasi langsung (FDI) maupun investasi
portofolio, diprakirakan masih cukup tinggi di tengah
masih besarnya kebutuhan likuiditas valas
domestik, antara lain untuk keperluan impor migas.
Dengan perkembangan tersebut di atas, cadangan
devisa sampai dengan akhir Februari 2013
mencapai 105,2 miliar dolar AS atau setara dengan
5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri
Pemerintah, di atas standar kecukupan
internasional.
Pada bulan Februari 2013, tekanan depresiasi
terhadap rupiah cenderung mereda sehingga
mencapai rata-rata 9.680 per dolar AS.
Dibandingkan dengan posisi awal tahun 2013,
Rupiah menguat sebesar 0,31 persen.
Kebijakan stabilisasi nilai tukar yang ditempuh Bank
Indonesia, termasuk penguatan mekanisme
intervensi valas dan pembentukan referensi nilai
tukar rupiah di pasar domestik, mampu
meningkatkan kepercayaan pasar.
Selain itu, stabilitas nilai tukar juga didukung dengan
masuknya aliran dana nonresiden ke instrumen
rupiah yang mencapai Rp27,6 triliun. Ke depan, Bank
Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah
sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian.
Sementara pertumbuhan kredit hingga akhir Januari
2013 mencapai 23 persen (yoy), relatif stabil
dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kredit
modal kerja dan kredit investasi masih tumbuh
cukup tinggi sebesar 24 persen (yoy) dan 25,5
persen (yoy). Sedangkan kredit konsumsi tumbuh
19,8 persen (yoy).
Ke depan, Bank Indonesia meyakini stabilitas sistem
keuangan akan tetap terjaga dengan fungsi
intermediasi perbankan yang akan meningkat
seiring dengan peningkatan kinerja perekonomian
nasional.

Sumber: Antara

Salam penulis
ANCA | ancablogspot.com



Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Selasa, 05 Maret 2013

SERANGAN UDARA DILANCARKAN SELEPAS ITU PERTEMPURAN PENUH BERMULA

Gambar F 18 hornet


ancablogspot(5.3.13)
10.00 pagi: Hospital di Tungku tutup dan seorang
penduduk kampung berkata, satu halangan telah
diletakkan bagi melarang orang ramai memasuki
bandar itu.
9.50 pagi: Banyak ambulans dihantar dari Tawau.
Pengamal media dilarang memasuki kawasan Felda
16 dekat bandar Cenderawasih.
9.45 pagi: Kira-kira 300 penduduk kampung di balai
raya Tanjung Labian meminta makanan apabila
mereka tidak mendapatkannya sejak malam Isnin.
Mereka menyelamatkan diri dari Tanjung Batu
selepas mendengar terdapat laporan mengenai
penceroboh bersenjata.
8.30 pagi: Trak tentera dilihat memasuki kawasan
itu. Skuad elit tentera dan polis berada di darat dan
dipercayai terlibat dalam tembak-menembak
dengan lelaki bersenjata.
7.30 pagi: Sekurang-kurangnya enam letupan
berterusan didengari dan wartawan di resort
Sahabat 16 berkata, jet kembali terbang rendah.
7 pagi: Beberapa jet pejuang melalui kampung
Tanduo, diikuti dengan tembakan meriam.
Hawk
LAHAD DATU: Serangan pada waktu subuh
dilakukan bagi mengusir baki kumpulan bersenjata
Sulu, kata Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun
Razak pada Selasa, dalam satu kenyataan ringkas.
Jet pejuang pada awal pagi Selasa mulai terbang
rendah melalui kumpulan bersenjata yang
mengepung kampung Tanduo sejak 9 Februari.
Letupan berterusan didengari apabila polis dan
tentera mengambil langkah menentang lelaki
bersenjata yang dilaporkan membuat tembakan
kembali.
Keadaan di sekitar Tanjung Labian, kira-kira 7
kilometer dari kampung Tanduo di Felda Village 17
begitu tegang dengan lebih 300 penduduk kampung
berkumpul di balai raya yang mendengar letupan.
KUALA LUMPUR: Sejurus selepas pengumuman
oleh Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak awal
jam 7 pagi tadi, pihak tentera melancarkan serangan
ke kawasan penceroboh dalam Kampung Tanduo,
Felda Sahabat, di Lahad Datu.
Menurut laporan The Star Online, pertempuran
bermula antara penceroboh bersenjatan dan
pasukan keselamatan sejak awal pagi tadi.
Bunyi tembakan dan jet pejuang dilihat berkeliaran
sekitar kawasan Felda Sahabat. Empat letupan juga
kedengaran di Kampug Tanduo, lapor akhbar harian
tersebut.
Kumpulan 200 orang bersenjatan tersebut yang
mendakwa diri sebagai Tentera Diraja Kesultanan
Sulu telah mendapat pada 9 Februari untuk
menunaikan hajat tuntutan sultan mereka keatas
negeri Borneo tersebut.
Panglima Angkatan Tentera Jeneral Tan Sri Zulkifeli
Mohd Zin semalam berkata tujuh lagi batalion askar
telah dihantar ke Sabah sejak Sabtu lalu, dengan
lima di Lahad Datu dan setiap satu lagi di Sandakan
dan Tawau.
Zulkifli berkata walaupun pengganas Filipina
tersebut hanya kelihataan di Kampung Tanduo,
Lahad Datu serta juga di Kampung Lormalong dan
Kampung Dasar Lama sekitar Kunak, pasukan
keselamatan dihantar ke Sandakan dan Tawau
untuk menjaga keselamatan penduduk dikawasan
tersebut.
"Kita bekerjasama dengan polis dan pasukan
keselamatan mereka untuk menjaga negara kita,"
kata beliau.
Trak tentera yang berderet membawa anggota
tentera kelihatan menuju ke Kampung Tanduo di
Felda Sahabat, yang dikatakan dua kali saiz negara
Singapura dengan 57 perladangan.
Setiausaha Majlis Keselamatan Negara (MKN) Datuk
Mohamed Thajudeen Abdul Wahab pula
memberitahu New Straits Times peningkatan
anggota daripada Agensi Penguatkuasaan Maritim
Malaysia, polis marin, tentera lalu dan tentera udara
yang mengawal dan menjalankan pemantauan
sejak dua hari lalu.
Tempur Di Kampung Tanduo Dilancarkan
Sepenuhnya
KG TANDUO: Pertempuran darat dipercayai berlaku
di kampung Tanduo.
Tembakan meriam dihentikan dan jet pejuang
dipercayai telah melakukan tugas mereka.
Tiada letupan didengari lagi.
Jets tidak dilihat terbang melalui kampung itu yang
berlakunya serangan tembakan pada sejak pukul 7
pagi.
Butiran bilangan mangsa di kalangan anggota
kumpulan bersenjata Sulu, yang diketuai oleh Raja
Muda Azzimudie Kiram, dan pasukan keselamatan
tidak diketahui.
Bagaimanapun, ambulans dari Tawau dan Lahad
Datu telah diletakkan dalam keadaan bersiap sedia
dilihat menuju keluar.
Sebuah helikopter Nuri turut dilihat membawa
tentera dari Cenderawasih kepada barisan hadapan
di kampung Tanduo.
Persisiran kampung Tanduo tenang apabila pihak
berkuasa maritim dan tentera laut berada di situ
melakukan pemantauan terhadap kemungkinan
serangan balas dari kumpulan bersenjata di selatan
Filipina yang mengancam untuk melakukan
serangan di bandar pantai timur Sabah sekiranya
kampung Tanduo diserang.
Walaupun terdapat laporan penceroboh dilihat
muncul dari Kinabatangan dan kawasan-kawasan
lain, polis mengisytiharkan keadaan di seluruh
Sabah kini terkawal.

Dari berbagai sumber

Salam penulis
ANCA | ancablogspot-anca.blogspot.com



Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Senin, 04 Maret 2013

MALAYSIA HADAPI ANCAMAN G SERANGAN ERILYA BANDAR

ancablohspot, — Zainuddin Maidin
MARCH 04, 2013
— Setelah penyelesaian tuntutan Fipilina ke
atas Sabah, kerajaan Malaysia menampakkan
keyakinan penuh tidak akan timbul kebangkitan untuk
mengambil semula Sabah dengan tindakan
bersenjata. Ancaman yang bersifat pencolekan dan
pencerobohan dari Filipina yang berlaku dari semasa
ke semasa lebih diketahui sebagai tindakan lanun
yang tiada jelas hubungannya dengan politik.
Bagaimanapun, pencerobohan Tentera Diraja
Kesultanan Sulu di Lahad Datu yang setakat ini
mengorbankan tujuh anggota keselamatan Malaysia
(dua komando dan lima anggota polis) oleh penembak
tepat (sharpshooter) atas alasan mahu Sabah
dikembalikan kepada mereka, mencetuskan beberapa
persoalan tentang kedudukan keselamatan negara
sekarang dan juga taraf keupayaan pengawal negara;
polis dan tentera, terutama bahagian Perisikan Tentera
dan Unit Cawangan Khas Polis Di Raja Malaysia.
Anggapan bahawa pencerobohan itu datang hanya
dari tentera asing tanpa kerjasama rakyat tempatan
atau pemastautin tetap dari Selatan Filipina tidaklah
bagitu tepat oleh kerana menurut laporan akhbar,
tentera Kesultanan Sulu itu telah berada di beberapa
kawasan di Sabah sejak empat bulan lalu. Tentunya
mereka telah mengatur perancangan serangan yang
berstrategik dan taktik yang rapi.
Bahawa tentera kesultanan ini dapat bertahan dan
dapat melepaskan tembakan tepat ke sasaran,
membuktikan bahawa mereka cukup terlatih dan
mempunyai alat pemantauan keselamatan yang
cukup canggih.
Bahawa Pasukan Keselamatan menaburkan risalah
menerusi helicopter supaya mereka menyerah diri
menampakan betapa kita masih menggunakan
strategi zaman penjajah yang sudah outdated.
Peristiwa ini juga membuka mata kita terhadap
kemungkinan besar akan boleh berlaku gerakan gerila
bandar (urban guerilla) menggantikan perjuangan
pengganas komunis di hutan rimba dengan adanya
pelbagai anasir di dalam kemasukan jutaan pendatang
asing yang dimudahkan oleh perasuah di pintu masuk
negara kita. Tentunya di antara mereka terdapat
perisek, pengintip dan sebagainya selain dari
penjenayah yang lebih mudah untuk ditangani.
Keadaan sekarang adalah berbeza dengan sebelum
berlaku konfrantasi Indonesia di tahun enam puluhan
di mana ketika itu jumlah rakyat asing yang berada di
negara ini terutama dari Indonesia dan Filipina adalah
kecil .Pergerakan mereka lebih mudah lagi dengan
adanya pemimpin-pemimpin politik Malaysia yang
menjadi alat kuasa asing.
Peristiwa Lahad Datu tentunya telah menggemparkan
dunia, kerana Malaysia dan Singapura di ketahui di
Asia sebagai dua buah negara yang mempunyai taraf
keselamatan yang tinggi. Seperti terkejutnya kita
dengan peristiwa pengembomam di London pada 7
June 2005, maka demikianlah dunia gempar dengan
letupan pencerobohan berdarah di Lahad Datuk Sabah.
Malaysia diketahui mempunyai kecekapan dalam
memantau gerakan militan Islam seperti gerakan
Jemaah Islamiah Nusantara yang hendak menegakkan
Darul Islam di Nusantara, tetapi tentunya tidak terfikir
bahawa Tentera Kesultanan Sulu boleh mendatangkan
bahaya lebih besar kepada negara.
Satu demi satu wira kita telah gugur dengan tembakan
tepat dan tentunya mereka ini telah melalui taraf
latihan yang kental dan bukan sebarangan dan tidak
boleh ditolak kaitannya dengan Gerakan Jemaah
Islamiah Nusantara sekalipun kemungkinannya adalah
tipis.
Dan jika benar ada rakyat negara ini yang terlibat
dalam membantu penyusupan, perancangan dan
serangan dalaman maka mereka mestilah
menghadapi balasan dan hukuman yang setimpal
dengan dosa mereka sebagai pembelot dan
penderhaka negara.
Apakah persitwa ini juga merupakan akibat dari
penghapusan ISA yang walaupun pihak perisek telah
mengetahui kegiatan anasir musuh dari dalam lebih
awal, tetapi tidak dapat bertindak tanpa bukti untuk
dihadapkan ke mahkamah. — zamkata.blogspot.com


Diulas oleh: ZAINUDDIN MAIDIN
Dipetik dari: The Malaysian insider

Salam penulis
ANCA | ancablogspot-anca.blogspot.com


Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

Sabtu, 02 Maret 2013

KISAH TENTERA AMERIKA KINI JADI IMAM

Gambar Khallid


ancablogspot (2.3.13)

Postur badan yang tinggi, besar dan berkulit hitam
mungkin pemandangan umum di angkatan darat AS.
Namun, ada satu hal yang membuatnya cukup ketara
iaitu bulan sabit bersulam hitam pada di topi rasminya.
Ya, itulah penampilan seharian Mayor Khallid Shabazz
ketika berseragam rasmi.
Dengan lambang itu, Khallid dikenali sebagai seorang
Imam yang mewakili perwakilan Muslim dalam tentera
AS. Dengan kedudukannya itu, Khallid selalu mendapat
perhatian lantaran polisi AS melawan kelompok Muslim
selama satu dekad.
"Saya bukan seorang imam, tapi saya seorang
Muslim," katanya seperti dilaporkan agusta.com, Isnin
(6/2).
Ketika ini, AS menempatkan sejumlah imam dalam
beberapa lokasi strategik. Khallid sendiri ditempatkan
di Jerman. Di sana dia bertugas membimbing tentera
AS yang Muslim. Namun, dalam tugasnya dia juga
memberikan arahan kepada tentera AS beragama
Kristian.
Sebelum memeluk Islam, Khallid yang dahulu bernama
Michael Barnes merupakan individu yang dibesarkan
dalam keluarga Kristian yang taat. Semasa remaja,
Khallid banyak melalui perkara pahit yang paling teruk
ketika dia dipukul dan ditembak oleh kumpulan yang
tidak dikenali.
Selanjutnya, kehidupan Khallid berubah drastik setelah
dia diwajibkan mengikuti latihan ketenteraan. Baginya,
kewajipan itu menjanjikan harapan baru berupa
kehidupan yang lebih baik. Memang benar, kehidupan
tentera sangat sesuai untuk Khallid. Tapi
kedudukannya sebagai tentera barisan hadapan
membuatnya sengsara.
Suatu ketika, dia mendapati sebuah perbincangan
agama dengan seorang Muslim. Dari perbincangan itu,
ada perubahan perspektif dalam dirinya tentang
agama. Dia pun memutuskan memeluk Islam.
Keputusannya itu mendapat cemuhan dari pihak
atasannya. "Mengapa anda melakukan sesuatu yang
bodoh," kata dia.
Melihat komen itu, Khallid terpukul. Namun, seorang
pendeta Katolik menyarankannya untuk menjadi
ulama tentera. "Sepertinya itu adalah wahyu. Saya
merasa ada hal yang harus dikerjakan," tenang Khallid.
Dia memulakan niat itu dengan menukar namanya
menjadi Khallid Shabbaz. Dia pelajari bahasa Arab dan
Islam di Jordan.
Tugas besarnya pun bermula pada 2004. Ketika itu, dia
ditugaskan untuk menjadi ulama bagi tahanan
pengganas di penjara Guantanamo, Cuba. Dia
menggantikan ulama bernama Yusuf Lee yang ditahan
atas tuduhan hasutan. "Ketika itu, saya tidak punya
waktu untuk takut," katanya.
Khallid mula merasa seperti orang buangan di
Guantanamo. Sebagai seorang imam tanpa janggut,
berikut dengan seragam tentera Amerika. Para
tahanan umumnya tidak percaya padanya. Para
penjaga di Guantanamo pun tidak terlalu tertarik pada
seorang lelaki yang melayani musuh Amerika. "Inilah
bahagian yang sukar dari hidup saya. Padahal aku
tidak memihak sesiapa," kata dia.
Khallid akhirnya menarik perhatian saudara-
saudaranya melalui keperibadian dan kemampuannya
dalam bermain bola keranjang. Dia berjaya
menjalankan misinya sebagai duta bagi tentera, AS
dan Islam. "Ketika mereka berinteraksi dengan saya,
saya mempunyai bola untuk dimainkan dengan orang-
orang ini," katanya dia.

Sumber: agusta.com

Salam penulis

ANCA | ancablogspot-anca.blogspot.com


Sent from my BlackBerry® wireless device via Vodafone-Celcom Mobile.

La Pattawe Matinroe ri Bettung Raja Bone ke-9 Tahun 1565-1602

La Pattawe Matinroe ri Bettung Raja Bone ke-9 Tahun 1565-1602 La Pattawe Daeng Soreang Matinroe ri Bettung (Bulukumba) adalah raja Bone ke-9...